Rumah Bujang Suku Asmat

Orang-orang Asmat mempunyai dua tipe rumah, yaitu rumah keluarga dan rumah bujang. Rumah bujang ini dulu merupakan tempat tinggal kaum pria. Tetapi kadang-kadang suatu keluarga dapat tinggal untuk sementara di rumah bujang hingga mempunyai tempat tinggal sendiri. Rumah bujang atau je, terbagi atas dua bagian utama yang dinamakan aipmu. Aipmu yang letaknya mengarah ke hilir sungai disebut aipmu sene dan yang mengarah ke mudik disebut aipmu ep. Rumah bujang dinamakan sesuai dengan nama marga (keluarga) pemiliknya.

Image

Jika terjadi perpecahan, je yang baru dinamakan dengan nama wanita, yaitu nama adik wanita atau ibu dari laki-laki yang memutuskan perpecahan itu. Suatu je mempunyai kepala je yang memutuskan bila harus mengumpulkan sagu, membuat perahu dan bila upacara adat harus dilangsungkan. Hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama dari beberapa je, membuat kepala-kepala je berkumpul untuk membicarakannya di je kepala yang paling dihormati.

ImageSetiap aipmu juga mempunyai pemimpin dan kepala aipmu kemudian dapat menjadi kepala je. Kepala aipmu menentukan hal-hal yang tidak memerlukan keputusan kepala je. Namun keputusan-keputusan diambil setelah bermusyawarah dengan para anggota dan hanya menyangkut aipmu yang dipimpinnya.

Rumah bujang merupakan pusat kegiatan, baik yang bersifat religius maupun yang non religius. Seringkali anak-anak lelaki, bujang-bujang dan orang-orang tua tidur disana. Sebuah keluarga juga dapat tinggal disana. Namun ketika sebuah penyerangan akan direncanakan, atau bila ada upacara-upacara tertentu, wanita dilarang masuk. Kini, rumah bujang hanya merupakan suatu rumah panjang tanpa adanya pembagian ke dalam aipmu-aipmu. Fungsinya pun sebagai jantung kehidupan suatu clan sudah banyak berkurang. [Irina/Editor: Magda/Sumber Gambar: Asmat - Menyingkap Budaya Suku Pedalaman Irian Jaya | Dea Sudarman]

 
< Prev   Next >